Pulau Rimau, — Rumah Baca Darussalam terletak disebuah desa kecil yang jauh dari keramaian kota metropolitan. Lokasi yang memang terbilang terpelosok membuat akses ke kota juga membutuhkan jarak tepuh yang sangat lama, belum lagi kondisi lahan, dan infrastruktur seperti jalan yang jauh dari memadai, apabila hujan jalan akan terlumat seperti lumpur, karena kondisinya memang belum diaspal dan masih tanah biasa yang atasnya ditabur dengan tanah merah.

Sarana dan prasarana seperti lampu PLN juga baru masuk kurang lebih 5 tahun terakhir ini, tempat pelayanan kesehatan seperti puskesmas pun terlampau jauh dari desa dengan jarak tempuh kurang lebih 30 km, di desa hanya ada rumah bidan. Sedangkan untuk lembaga pendidikan di wilayah desa sudah ada 1 TK, SD, dan MI. Jika setelah lulus dan melanjutkan ke jenjang SMP/MTs dan SMA/MA maka harus menempuh jark kurang lebih 25-35 km setiap harinya.

Rendahnya akses dan infrastruktur yang ada menjadikan banyak kendala bagi masyarakat yang ingin beraktifitas. Padahal jalan adalah akses utama untuk bisa sesegera mungkin sampai pada tempat tujuan. Begitupun penerangan, sarana kesehatan, lembaga pendidikan juga sangat membantu dan menunjang kemajuan desa setempat. Desa tersebut memang masih sangat tertinggal jika dibandingan dengan desa-desa yang ada di daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia secara umum dan secara khusus di wilayah Sumatra Selatan.

Selain minimnya infrastruktur jalan disini juga masih minimnya fasilitas edukasi untuk bisa diakses bagi anak-anak, remaja (usia sekolah) dan masyarakat. Jangankan fasilitas, buku yang seharusnya mampu menjadi salah satu jendela pengetahuan pun sangat sulit untuk bisa didapatkan secara langsung beli di toko buku atau sekadar untuk foto copy, hal ini terjadi karena tidak adanya ketersediaan fasilitas. Anak-anak dan remaja usia sekolah hanya mendapatkan akses buku ketika ia berada di bangku sekolah dan itu pun hanya buku-buku cetak seadanya yang disediakan oleh pihak sekolah dan hanya dipinjami saat di kelas saja.

Melihat kondisi dengan kurangnya fasilitas umum dan fasilitas edukasi yang masih kurang memadai, kemudian hal tersebut menggugah semangat salah seorang warga desa yang bernama “Syarif Hidayatullah” dalam membantu memajukan desanya, ia berinisiatif melangkah dengan cara mendidik atau mengajar ngaji anak-anak yang ada disekitar atau lingkungan desa tersebut di rumahnya, serta memajang beberapa buku-buku miliknya saat belajar di Pesantren, untuk sedikit membantu anak-anak, remaja dan masyarakat dalam mengakses ilmu pengetahuan tentang keaagamaan. Lambat laun banyak masyarakat yang tertarik sehingga banyak orang tua yang menempatkan anak-anaknya untuk mengaji disana.

Berjalan sampai saat ini, anak-anak yang megaji tidak lagi di rumah, namun beralih ke masjid Darussalam Desa Wonosari, alasannya karena tempat ibadah tersebut lebih setrategis dan cocok untuk kegiatan keagamaan serta lebih luas karena semakin banyaknya minat belajar anak-anak dan semangat orang tua sehingga jika mengaji di rumah melebihi kapasitas. Dukungan demi dukungan dari warga setempat membuat semangat pengurus.

Walaupun pengurus yang memang merangkap sebagai tenaga pendidik hanya berjumlah 3 orang, tapi hal tersebut tidak meyurutkan semangat meraka untuk terus berjuang membantu mencerdaskan anak bangsa melalui kegiatan pendidikan keagamaan dan ketrampilan lainnya. Dari situlah kemudian terbentuk TPA Darussalam, sebagai salah satu inisiatif pengebangan desa yang dilakukan secara mandiri. Kegiatan TPA Tersebut terhitung sudah berjalan kurang lebih selama 3 tahun, sejak berdiri pada tahun 2013 sampai sekarang.

Saat ini TPA Darussalam menjadi salah satu tempat yang dipilih oleh orang tua murid. Karena selain kegiatan TPA yang identik dengan mengaji, dan membaca Iqra’, Al-Qur’an, mempelajari ibadah-ibadah lainnya, seperti praktek shalat dan lain sebagainya.

Selain itu mereka juga diajarkan ketrampilan, seperti kaligrafi, serta kegiatan-kegiatan keagamaan dan nasional yang lainnya dalam memperingati PHBI dan BHBN. Walaupun TPA sudah terbentuk dan berjalan selama 3 tahun lamanya, namun demikian kegiatan-kegiatan tekkan berjalan dengan seimbang tanpa diimbangi dengan buku sebagai salah satu jendela ilmu pengetahuan dan sebagai penunjang untuk pengembangan bagi terbukanya wawasan. Maka perlu untuk pengembangan dalam sarana dan prasarana di desa Wonosari ini.

Tidak berhenti sampai disini saja, ternyata semangatnya untuk mendirikan TPA masih terasa kurang tanpa diimbangi dengan fasilitas pendukung yang menjadi sumber ilmu pengetahuan, yaitu perpustakaan atau rumah baca, sebagai salah satu pusat studi yang menyenangkan bagi anak-anak, remaja (usia sekolah) dan masyarakat pada umumnya.

Untuk itulah pengurus yang sekaligus sebagai tenaga pendidik TPA Darussalam memikirkan cara untuk memudahkan anak-anak atau peserta didik mengakses informasi dan tambahan wawasan ilmu pengetahuan sebagai salah satu penunjang prestasi belajar akademik dan non-akademik. Hal ini dilakukan agar masyarakat setempat tetap bisa membaca, dan  terus belajar.

Dengan melihat semangat belajar santri TPA dan orang tua, akhirnya tokoh utama pelopor berdirinya TPA Darussalam ini bernegosiasi dan menyebarkan informasi kepada seluruh pemuda desa Wonosari yang peduli akan pendidikan, masa depan dalam mencerdaskan anak-anak bangsa, baik yang ada di wilayah desa setempat, baik di kota Palembang bahkan sampai ke luar kota atau daerah di wilayah Indonesia, untuk bersama-sama membangun desa yang pernah menjadi tanah kelahiran.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya para pemuda baik yang ada di dalam desa atupun yang sudah lama meninggalkan desa bersinergi menjadi satu untuk bersama-sama membangun desa dengan mendirikan “Rumah Baca Darussalam” hanya dengan membentuk grup medsos. Kesepakatan ini dibuat berdasarkan kondisi yang memang memprihatinkan seperti yang sudah disebutkan di atas.

Pada Desember 2016 memang menjadi salah satu akhir tahun yang baik bagi pengembangan edukasi di desa Wonosari RT 04 RW 01. Walaupun masih dalam tahap meritis atau masih baru berdiri, langkah demi langkah terus dilakukan oleh para pengurus dan relawan sampai saat ini, Salah satunya adalah dengan mengumpulkan para donatur buku (one person one book) untuk membantu mengembangkan awal berdirinya “Rumah Baca Darussalam”.

Sebelum rumah baca di resmikan, para relawan menggunakan waktu selama kurang lebih 6 bulan untuk mengumpulkan buku dan bantuan materi dari para donatur, baik dari kalangan mahasiswa, pegawai/karyawan swasta, dosen, serta masyarakat. Dan bertepatan pada tanggal 28 Juli 2017 M/ 4 Syawal 1438 H pada pukul 16:30 di ruangan “Rumah Baca Darussalam”, akhirnya “Rumah Baca Darussalam” telah resmi dibuka oleh pelopor atau pendiri Rumah Baca “Syarif Hidayatullah”, serta dihadiri oleh Sekretaris desa, para perangkat desa, RT, RW, Pemuda/pemudi, dan anak-anak TPA Darussalam serta anak-anak lainnya yang memang berdomisili di Desa Wonosari tersebut, serta masyarakat secara umum.

Meskipun saat ini rumah baca yang dibuka masih berada di ruang tamu rumah sang pelopor, tapi hal tersebut tidak menjadi penghambat untuk berlangsungnya proses belajar bagi anak-anak, pemuda dan masyarakat. Serta tidka mengganggu aktivitas sang pelopor dan keluarga. Karena dengan dibukanya “Rumah Baca Darussalam” ini menandakan bahwa jalan baru ilmu pengetahuan di desa terpencil ini telah dimulai.